Vaksin Covid-19 Ganggu Siklus Haid, Ini Penjelasan Medis

Warga menjalani vaksin booster kedua atau dosis keempat di kawasan Walikota Jakarta Timur, Selasa, (24/1/2023). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Vaksin Covid-19 memiliki peran penting dalam mengendalikan pandemi. Tapi di satu sisi, para peneliti masih mempelajari tentang bagaimana vaksin tersebut dapat memengaruhi kesehatan manusia.

Salah satu pertanyaan adalah bagaimana vaksin dapat memengaruhi siklus menstruasi. Laporan tentang wanita yang mengalami perubahan dalam siklusnya -baik dalam intensitas dan frekuensi perdarahan, atau lamanya menstruasi- telah mendorong ilmuwan meneliti lebih lanjut tentang bagaimana vaksin Covid-19 dapat memengaruhi siklus tersebut.

Dalam studi terbaru, yang diterbitkan di BMJ, para peneliti yang dipimpin oleh Rickard Ljung, profesor epidemiologi dan spesialis dokter di Badan Produk Medis Swedia, melihat catatan medis dari hampir 3 juta wanita Swedia dengan usia 12 hingga 74 tahun.

Mereka berfokus pada orang yang mencari perawatan dari profesional kesehatan karena terjadi perubahan menstruasi sejak Desember 2020 hingga Februari 2022 dan dapat melihat kapan wanita tersebut divaksinasi, serta berapa lama jarak setelah vaksin hingga datang mencari pengobatan.

Hasil analisisnya menyatakan tidak menemukan hubungan yang kuat antara vaksin Covid-19 dan perubahan menstruasi-atau setidaknya peristiwa pendarahan yang cukup parah bagi perempuan yang mencari perawatan medis.

Asosiasi terkuat ada di antara wanita pasca-menopause. Setelah dosis ketiga (booster) vaksin mRNA, yang dibuat oleh Moderna atau Pfizer-BioNTech, membuat wanita mengalami peningkatan risiko perdarahan sebesar 28% pada minggu pertama setelah vaksinasi. Dan sekitar 25% peningkatan risiko perdarahan selama tiga minggu berikutnya, dibandingkan dengan sebelum vaksinasi mereka.

Ljung mengatakan bahwa pola tersebut tidak serta merta menunjukkan adanya hubungan antara kedua peristiwa tersebut, terutama karena peningkatan serupa tidak terlihat di antara wanita pramenopause, demikian dikutip dari Time, Jumat (5/5/2023).

Ljung mengatakan bahwa hubungan di antara wanita pasca-menopause dapat disebabkan oleh sejumlah faktor, termasuk fakta bahwa mereka mungkin lebih terbiasa dengan pendarahan dan lebih cenderung menemui dokter daripada wanita yang lebih muda, yang mungkin mengaitkan pendarahan dengan menstruasi yang tidak teratur.

Selain itu, mengingat data yang mencatat kunjungan dokter, tidak mungkin wanita bisa membuat janji dengan dokter dalam waktu seminggu jika mereka mengalami pendarahan setelah divaksinasi.

“Itu waktu yang sangat singkat untuk mendapatkan janji seperti itu,” kata Ljung.

Pola tersebut, katanya, tidak mendukung kemungkinan adanya hubungan sebab akibat antara vaksinasi dan perubahan siklus menstruasi. Kemungkinan hubungan yang terlihat di antara wanita pascamenopause mungkin mencerminkan faktor lain.

“Agak meyakinkan bahwa tampaknya tidak ada peningkatan risiko gangguan menstruasi yang lebih parah, perdarahan, atau perubahan lain setelah vaksinasi,” kata Ljung.

Namun, dokter tidak sepenuhnya memahami mengapa imunisasi Covid-19 dapat memengaruhi siklus menstruasi, sehingga diperlukan lebih banyak penelitian untuk mengetahui lebih lanjut bagaimana pengembangan kekebalan terhadap SARS-CoV-2 memengaruhi kesehatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*