Pantai Cilincing: Tempat Wisata Kompeni yang Kini Terlupakan

Pantai Ancol (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Warga Jabodetabek tak punya banyak pilihan jika ingin wisata di pantai. Terdekat hanya ada Ancol, pantai satu-satunya di Jakarta. Itupun bukan pilihan terbaik karena di kala musim liburan, pantai tersebut berubah menjadi lautan manusia. Dan, tentu saja, untuk bisa menikmati suasa pantai, ada tiket masuk yang harus dibayar.

Bergeser dari Ancol, kini ada pantai pasir putih garapan Agung Sedayu yang berlokasi di Tangerang. Tapi, di sana tidak bisa berenang dan hanya menjadi spot foto saja. Opsi terbaik sebetulnya bisa melipir ke pesisir Banten, di sana ada banyak pantai yang menghadap Selat Sunda. Namun, untuk mencapai ke sana butuh waktu dan biaya yang tidak sedikit.

Sebetulnya 4-5 dekade lalu, masyarakat Jakarta punya satu pilihan lagi, yakni Pantai Cilincing. Namun, akibat masifnya pembangunan, keberadaan pantai tersebut hanya tinggal kenangan.

Padahal Pantai Cilincing adalah salah satu destinasi wisata populer di Jakarta atau Batavia. Sebagai pantai dan destinasi wisata, keberadaan Pantai Cilincing sudah menjadi wisata populer sejak masa kolonial Belanda. Lokasinya di timur Tanjung Priuk.

Dalam paparan koran Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië (7 Juni 1937), diketahui pantai ini memiliki pasir putih dan di dekatnya ada jejeran pohon kelapa serta permukiman penduduk bangsawan China.

Merujuk situs Javapost, untuk pergi kesana setiap orang harus mencapai Batavia dahulu. Baru naik kereta api listrik ke daerah Priok. Atau bisa juga mengendarai mobil selama puluhan kilometer melewati jalanan rusak dan becek.

Koran Bataviaasch Nieuwsblad (14 Januari 1933) juga menyebut untuk pergi kesana direkomendasikan naik kereta listrik dari Meester Cornelis (Jatinegara) dan Weltevreden (kini kawasan lapangan banteng).

Jangan membayangkan pantai tersebut serupa dengan Ancol masa kini. Di Cilincing tidak ada hotel dan kafe. Hanya ada sedikit warung. Meski begitu, daya pikat utama pantai tersebut adalah bebas biaya alias gratis.

Walau harus menempuh waktu lama, tetapi setiap orang yang datang bisa menikmati kedamaian dan kebebasan dari hiruk-pikuk perkotaan Batavia.

Sayangnya, pada masa kolonial, pantai tersebut sangat eksklusif Hanya keturunan Indo-Eropa yang bisa datang. Warga pribumi tidak diperbolehkan masuk.

Barulah ketika merdeka tahun 1945 aturan itu runtuh dan warga lokal bisa datang. Hingga akhirnya, karena kebutuhan ruang kota yang besar, kawasan Pantai Cilincing digusur dan diubah fungsinya menjadi permukiman warga.

Akibatnya kini Pantai Cilincing hanya tinggal nama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*