Ketua ASEAN-BAC Ungkap Potensi Kerja Sama Indonesia-Filipina

Kadin Indonesia

ASEAN Business Advisory Council (ASEAN-BAC) yang tahun ini diketuai oleh Indonesia membawa tema ‘ASEAN Centrality: Innovating Toward Greater Inclusivity’ untuk membawa babak baru keterlibatan dan dukungan penuh swasta dalam memajukan kawasan ASEAN yang kuat, inklusif, dan berkelanjutan.

ASEAN BAC sendiri menjadi kelompok yang mewakili komunitas bisnis di kawasan ASEAN dan terdiri dari para pemimpin tingkat tinggi dan eksekutif bisnis dari perusahaan besar multinasional dan organisasi dari negara-negara ASEAN.

Pada tahun ini pula, Indonesia sebagai ketua secara berkelanjutan terus mendorong kolaborasi yang lebih besar di kawasan Asia Tenggara untuk menjadikan ASEAN sebagai pusat pertumbuhan dan ekonomi global, terutama pada sektor-sektor baru seperti pembangunan hijau dan transformasi digital.

Salah satu potensi besar dari tujuan besar tersebut datang dari negara Filipina. Untuk mewujudkan itu, ASEAN-BAC sendiri telah memperdalam potensi kemitraan dengan pemerintah Filipina, termasuk Ibu Negara Louise Araneta-Marcos dan Penasehat Presiden Bidang Investasi dan Ekonomi, Frederick Go melalui roadshow ke Manila pada 27-28 Maret lalu.

Ketua ASEAN Business Advisory Council (ASEAN-BAC) Indonesia dan Ketua Kadin Indonesia, Arsjad Rasjid mengatakan kemitraan ekonomi Indonesia dan Filipina yang kuat tergambar melalui berbagai kolaborasi yang menghasilkan investasi Filipina sebesar US$ 14 juta di Indonesia pada 2022, juga sejumlah komoditas yang diekspor Indonesia dengan nilai US$ 5,92 miliar pada 2021.

Adapun kemitraan yang dimaksud mencakup menciptakan nilai tambah untuk nikel dan tambang mineral lain dalam kaitannya untuk hilirisasi kendaraan listrik atau Electric Vehicle (EV), peningkatan kerja sama terkait konektivitas pembayaran melalui program ASEAN QR Code, serta mendukung agenda regenerasi hutan yang sejalan dengan program warisan ASEAN-BAC.

Dalam kaitannya hilirisasi demi keberhasilan pengembangan industri EV dan baterainya, Indonesia dan Filipina memiliki cadangan nikel terbesar di di Asia, yakni sebesar 33-40%dari cadangan biji nikel di seluruh dunia. Arsjad menyebut, kedua negara berpotensi meningkatkan produksi nikel dunia hingga mencapai 50%.

Selain itu, potensi cadangan mineral lain untuk kendaraan listrik juga menjadi sorotan, sehingga menambah peluang ASEAN menjadi pusat rantai pasok kendaraan listrik. Untuk itu, Indonesia mendorong Filipina untuk ikut berpartisipasi dalam hilirisasi industri kendaraan listrik dan baterai di kawasan ASEAN.

“Indonesia dan Filipina memegang posisi yang kuat dalam hal cadangan biji nikel global. Potensi ini bisa menjadi pondasi yang kuat agar kedua negara mampu menjadi pemimpin dalam ekosistem industri kendaraan listrik dan baterai, baik di ASEAN maupun di dunia,” ujar Arsjad dikutip dari siaran resmi, Jumat (5/5/2023).

Di Indonesia sendiri, pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk mendukung kelancaran hilirisasi baterai dan kendaraan listrik. Salah satunya, mendongkrak nilai tambah komoditas nikel dari US$ 1,1 miliar menjadi US$ 20,8 miliar pada 2021.Selain itu, Indonesia juga memiliki pencapaian apik di sektor pertambangan, khususnya ekspor nikel dalam bentuk besi dan baja, nikel matte, dan mixed hydrate precipitate dengan nilai ekspor sebesar US$ 20 juta.

Lebih lanjut, ASEAN-BAC bersama pemerintah Filipina juga membahas penerapan sistem pembayaran menggunakan kode QR yang bertujuan mendukung UMKM dan transaksi lintas batas di ASEAN. Penerapan sistem kode QR berguna untuk pembayaran lintas batas yang lancar dan efisien, serta mendukung pertumbuhan UMKM yang kian maju.

“Kepemimpinan Indonesia dalam ASEAN-BAC tahun ini bertujuan untuk memimpin transformasi digital dan inklusi keuangan di wilayah ASEAN. Terutama sebagai upaya dalam meningkatkan konektivitas dan inklusi keuangan bagi UMKM karena perannya sebagai tulang punggung ekonomi regional,” jelas Arsjad.

Sementara terkait kemitraan agenda regenerasi hutan, kedua negara akan mendapat manfaat dari meningkatnya permintaan kredit karbon, melihat nilai pasar karbon diperkirakan yang akan mencapai US$ 50 miliar pada 2030.

Wakil Ketua ASEAN-BAC, Bernardino Vega mengatakan keuntungan ini didapat kedua negara berkat sumber daya hutan yang signifikan melimpah, 91,2 juta hektar hutan di Indonesia dan 23,3 juta hektar hutan di Filipina.

“Dengan pembentukan program warisan ASEAN-BAC Net Zero dan Carbon Center of Excellence yang bertujuan untuk menciptakan ekosistem untuk pengembangan pasar net zero dan karbon, Indonesia dan Filipina dapat lebih memanfaatkan sumber daya hutan mereka secara signifikan dan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi kawasan,” terangnya.

Sebagai informasi, ASEAN BAC memiliki tiga nilai yang menjadi inti, yaitu centrality, innovation, dan inclusivity. Indonesia dalam ASEAN BAC juga membawa lima fokus area dalam dalam keketuaannya tahun ini. Adapun lima prioritas itu meliputi transformasi digital, pembangunan berkelanjutan, kesehatan, ketahanan pangan, serta perdagangan dan investasi.

Lima aspek ini akan tertuang dalam legacy projects ASEAN-BAC, yaitu Digital Lending Platform, ASEAN Net Zero Hub, Carbon Center of Excellence, ASEAN Business Entity, ASEAN One Shot Campaign, dan Inclusive Closed-Loop Model for Agricultural Product.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*