Bukan AS, Negara Asia Ini Ternyata Paling Glamour di Dunia

Holiday shoppers line up to enter the Prada store on Fifth Avenue on Sunday, Nov. 21, 2021, in New York. Holiday shopping is underway in the city as retail recovers from the coronavirus pandemic. (AP Photo/Pamela Hassell)

Dulu, para produsen barang mewah melirik pasar Amerika Serikat sebagai target market utama. Namun, tren tersebut mulai bergeser.

Data terbaru, Korea Selatan menjadi negara dengan masyarakat yang paling gemar membeli barang mewah. Bagaimana tidak, total pengeluaran untuk barang mewah di Korea Selatan selalu tumbuh dari tahun ke tahun sekitar 24% menjadi US$16,8 miliar atau setara Rp 263,9 triliun (asumsi kurs Rp 15.114 per US$) setahun.

Melansir CNBC International, Analis Morgan Stanley menilai permintaan barang mewah di kalangan pembeli Korea Selatan didorong oleh peningkatan daya beli serta keinginan untuk menunjukkan status sosial.

“Korea Selatan adalah pembelanja terbesar di dunia untuk barang-barang mewah pribadi per kapita, baik itu tas Prada Italia dari kulit sapi atau mantel Burberry Inggris kotak-kotak klasik,” ungkap Stanley, dilansir¬†CNBC Internasional,¬†dikutip Jumat (5/5/2023).

Bank investasi tersebut juga memperkirakan total pengeluaran masyarakat Korsel lebih banyak bila dibandingkan dengan masyarakat China dan Amerika Selatan.

Jika dibagi rata dengan total jumlah penduduk, satu orang Korea menghabiskan dana US$325 untuk barang mewah.

“[Pembelian barang mewah di Korea] per kapita jauh lebih banyak dibandingkan warga negara China dan Amerika yang menghabiskan masing-masing US$55 dan US$280,” papar Stanley.

Tingkat konsumtif masyarakat Korea Selatan kemudian disoroti oleh merk tas mewah di dunia. Pemilik merk tas mewah Cartier, Richemont Group, mengatakan Korea adalah salah satu wilayah di mana penjualan tumbuh dua digit pada 2022, dibandingkan dengan setahun dan dua tahun lalu.

Adapun, Stanley menjelaskan permintaan barang mewah di kalangan pembeli Korea Selatan didorong oleh dua hal, yakni peningkatan daya beli serta keinginan untuk menunjukkan status sosial.

“Penampilan dan kesuksesan finansial dapat lebih beresonansi dengan konsumen di Korea Selatan daripada di kebanyakan negara lain,” ujarnya.

Dia menambahkan, menampilkan kekayaan juga lebih diterima secara sosial di masyarakat Korea.

Sebuah survei oleh McKinsey menemukan bahwa hanya 22% responden Korsel yang menganggap pamer barang mewah sebagai hal yang tidak menyenangkan. Hal ini jauh berbeda bila dibandingkan dengan 45% orang Jepang dan 38% orang China.

Selain itu, permintaan barang mewah juga didukung oleh peningkatan kekayaan rumah tangga. Data Bank of Korea menunjukkan kekayaan bersih rumah tangga negara tersebut naik 11% pada tahun 2021. Sekitar 76% kekayaan rumah tangga di Korea adalah real estat, yang harganya telah meningkat secara substansial sejak tahun 2020.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*